sea

sea
java sea

Kamis, 20 Desember 2012

ANALISIS PENDEKATAN EKSPRESIF NOVEL TARIAN BADAI

PROSA
ANALISIS PENDEKATAN EKSPRESIF
NOVEL TARIAN BADAI
KARYA B. B TRIATMOKO











DISUSUN OLEH:
ERNI FATMAWATI
115200181
D/2011


UNVERSITAS ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
2012


DAFTAR ISI


  1. Daftar Isi
  2. Abstrak
  1. Pendahuluan
    1. latar belakang
    2. rumusan masalah
    3. tujuan penelitian
    4. manfaat penelitian
  2. landasan teori
    1. teori yang digunakan
  3. Metode penelitian
    1. pendekatan penelitian
    2. sumber dan data penelitian
    3. tekhnik pengambilan data
    4. tekhnik analisis data
  4. analisis
  5. simpulan









ABSTRAK


Prosa fiksi adalah cerita rekaan yang menyodorkan suatu cara pengungkapan yang eksplisit, atau menjelas-terangkan segala sesuatunya secara gamblang. Walaupun prosa dikatakan sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa adalah lamunan kosong seorang pengarang . karangan prosa adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan. Di dalam novel Tarian Badai karya B.B.Triatmoko. menceritakan tentang gejolak jiwa muda yang ingin memperoleh cinta, persahabatan, dan social. Novel Tarian Badai karya B.B Triatmoko. Aspek ekspresif sebagai salah satu pendekatan dalam sastra barangkali lebih cocok dipakai dalam melihat kebimbangan pengarang dalam berkarya. Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, Sehingga lahir sebuah tanda tanya mengenai pendekatan ekspresif ini. Bagaimanakah langkah penerapan pendekatan ekspresif? Apakah benar pendekatan ekspresif ini merupakan kajian yang berusaha mengungkap data diri pengarang? Mungkin pertanyaan ini akan bisa dijawab setelah kita mengetahui tentang pendekatan ini lebih jauh yang akan dibahas pada Bab II.







  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
Prosa fiksi adalah cerita rekaan yang menyodorkan suatu cara pengungkapan yang eksplisit, atau menjelas-terangkan segala sesuatunya secara gamblang. Walaupun prosa dikatakan sebagai cerita rekaan bukan berarti prosa adalah lamunan kosong seorang pengarang . karangan prosa adalah perpaduan atau kerja sama antara pikiran dan perasaan.
Di dalam novel Tarian Badai karya B.B.Triatmoko. menceritakan tentang gejolak jiwa muda yang ingin memperoleh cinta, persahabatan, dan social. Novel Tarian Badai karya B.B . Triatmoko karena penggunaan bahasanya sangat mudah dipahami oleh banyak kalangan, dengan susunan yang rapi serta banyak mengandung unsure seni. Didalam novel ini menceritakan tentang gejolak jiwa Ana yang sedang tampil mewakilli Indonesia di Boston-Amerika dan tentang gejolak nasib masyarakat Indonesia yang tidak diberikan hak yang layak, hati Ana seakan diterjang badai yang sangat dahsyat, karena sang kekasih hati berada di Indonesia yang kabarnya sedang terjadi kerusuhan yang dahsyat. Demonstrasi, penjarahan, pemerkosaan dan pembunuhan terjadi di seluruh pelosok Indonesia.
Aspek ekspresif sebagai salah satu pendekatan dalam sastra barangkali lebih cocok dipakai dalam melihat kebimbangan pengarang dalam berkarya. Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, presepsi-prespsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cendrung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan penglihatan mata batin pengarang/keadaan pikiranya.
Sehingga lahir sebuah tanda tanya mengenai pendekatan ekspresif ini. Bagaimanakah langkah penerapan pendekatan ekspresif? Apakah benar pendekatan ekspresif ini merupakan kajian yang berusaha mengungkap data diri pengarang? Mungkin pertanyaan ini akan bisa dijawab setelah kita mengetahui tentang pendekatan ini lebih jauh yang akan dibahas pada Bab II.

    1. Rumusan Masalah
  1. Apa karakteristik karya sastra B. B, Triatmoko?
  2. Bagaimanakah langkah penerapan pendekatan ekspresif?
  3. Apa unsure intrinsic dan ekstrinsik didalam novel novel Tarian Badai karya B.B.Triatmoko?

    1. Tujuan Penelitian
  1. Mengetahui karakteristik karya sastra B. B, Triatmoko
  2. Mengetahui langkah penerapan pendekatan ekspresif
  3. Mengetahui unsure intrinsic dan ekstrinsik didalam novel novel Tarian Badai karya B.B.Triatmoko

    1. Manfaat Penelitian
Agar memperjelas makna dan pesan yang terkandung di dalam novel Tarian Badai karya B. B. Triatmoko dan mengetahui penerapan pendekatan ekspresif didalamnya.


  1. LANDASAN TEORI
    1. Teori Yang Digunakan
Pendekatan ekspresif ini menekankan kepada penyair dalam mengungkapkan atau mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang ketika melakukan proses penciptaan karya sastra. Pengarang menciptakannya berdasarkan subjektifitasnya saja, bahkan ada yang beranggapan arbitrer. Padahal, ekspresif yang dimaksud berkenaan dengan daya kontemplasi pengarang dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan sebuah karya yang baik dan sarat makna.
Para kritikus ekspresif meyakini bahwa sastrawan (pengarang) karya sastra merupakan unsur pokok yang melahirkan pikiran-pikiran, presepsi-prespsi dan perasaan yang dikombinasikan dalam karya sastra. Kritikus cendrung menimba karya sastra berdasarkan kemulusan, kesejatian, kecocokan penglihatan mata batin pengarang/keadaan pikiranya.

  1. METODE PENELITIAN
    1. Pendekatan Penelitian
Dalam menganalisis novel tarian Badai karya B B Triatmoko, menggunakan pendekatan ekspresif yang mengulas karya sastra sebagai ekspresi atau curahan, atau ucapan perasaan, atau sebagai produk imajinasi penyair yang beroperasi/bekerja dengan pikiran-pikiran, perasaan, kritik itu cenderung menimbang karya sastra dengan kemulusan, kesejatian, atau kecocokan vision pribadi penyair atau keadaan pikiran, dan sering kritik ini mencari dalam karya sastra fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut

    1. Sumber dan Data Penelitian
Judul : Tarian Badai
No. ISBN : 9786028174824
Penulis : B.B. Triatmoko
Penerbit : Galang Press
Tanggal terbit : Juli – 2012
Jumlah Halaman : 184
Berat Buku : -
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : -
Kategori : Sosial-Budaya
Text Bahasa : Indonesia

    1. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga metode sebagai berikut :
  1. Metode Babat yaitu metode yang dilakukan dengan cara membaca keseluruhan teks atau literatur yang menjadi obyek penelitian guna memahami isi yang terkandung didalamnya, serta membaca resensi-resensi yang ada tentang novel Tarian Badai.
  2. Metode Deskripsi yaitu metode yang digunakan untuk memaparkan data yang telah dianalisis.
  3. Metode Study Pustaka yaitu metode yang digunakan untuk mencari, mengumpulkan data dan mengkaji secara mendalam buku-buku yang dijadikan bahan refrensi.


    1. Teknik Analisis Data
    2. Padapenelitiankuantitatifada3tipeanalisisyaitu:
    3. 1. Analisis utama atau data primer A dalah suatu analisis yang mempertimbangkan informasi atau data utama atau primer (dari tangan pertama) yang diperoleh dalam suatu penelitian
    4. 2.Analisis data sekunder Suatu analisis tentang penemuan yang ada dari peneliti lain yang mungkin menggunakan metode yang berbeda dan lebih halus
    5. 3.Metaanalisis Suatu analisis data yang telah dikumpulkan atau disusun dan dianalisis dari beberapa studi

  1. ANALISIS
    1. Karakteristik Karya Sastra
Setiap pembuatan novel sastrawan selalu mempunyai ciri khas pada setiap karyanya, itu bertujuan untuk identitas pada karyanya tersebut, agar sang penikmat bisa mengerti makna dan cerita yang berada didalam novel, sastrawanselalu memunculkan fakta-fakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman penulis, yang secara sadar ataupun tidak, telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.
Biografi

    1. Langkah Penerapan Pendekatan Ekspresif
Karena pendekatn ini merupakan pendekatan yang mangaitkan sebuah karya sastra dengan pengarangnya. Maka, langkah pertama dalam menerapkan pendekatan ekspresif, seorang kritikus harus mengenal biografi pengarang karya sastra yang akan dikaji.
Langkah kedua, melakukan penafsiran pemahan terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, seperti tema, gaya bahasa/diksi, citraan, dan sebagainya. Menurut Todorov dalam menafsirkan unsur-unsur karya sastra bisa dengan cara berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki kesadaran diri, dari pada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta. Artinya, seorang kritikus boleh bebas melakukan penfasiran pemahaman terhadap unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra.
Langkah ketiga, mengaitkan hasil penafsiran dengan berdasarkan tinjauan psikologis/kejiwaan pengarang, Asumsi dasar penelitian pikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.

    1. Penafsiran Novel
      1. Tokoh dan Penokohan
  1. Ana sang tokoh utama (protagonist): anak dari keluarga terpandang di Jogjakarta, memiliki sifat ramah, sopan santun, lembut, tekun, selalu ingin tahu.
  2. Bukit sebagai tokoh (protagonist): anak keluarga kaya, memiliki sifat, penyayang, suka menolong, dapat terombang ambing dalam perasaannya, setiakawan, berpikiran luas.
  3. Daniel sebagai tokoh utama (protagonist): anak dari konglongmerat Sumatra, memiliki sifat, sopan, rendah hati, teguh, berpikiran luas, mandiri, pendiam.
  4. Seto sebagai pembantu (protagonist): teman bukit pemalu, gigih, cerdas, berjiwa sosial.
  5. Dian sebagai pembantu (protagonist): istri seto, mrmiliki sifat, penyayang, cerdas, pandai berbicara, setia, kalem.
  6. Ayah Ana sebagai pembantu (protagonist): bijaksana, kolot, ramah, sopan.
  7. Ibu ana sebagai pembantu (protagonist); penyayang, ramah, sopan, tidak kolot.
  8. Pak sitorus sebagai pembantu (protagonist): ayah Daniel, ceria, penyayang, bijaksana, ramah.
  9. Ibu sitorus sebagai pembantu (protagonist): ibu Daniel, pendiam
  10. Yana sebagai pembantu (protagonist) teman Ana
  11. Ibu yana sebagai pembantu (protagonist) Ibu Yana
  12. Alvin sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
  13. Christina sebagai pembantu (protagonist) teman Buikt
  14. Kenneth sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
  15. Heather sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit
  16. Pater Consolmagno sebagai pembantu (protagonist) professor teman Bukit
  17. Wiji Teha sebagai pembantu (protagonist) teman Daniel dan Seto
  18. Pak Dikun sebagai pembantu (protagonist) sopir Seto
  19. Pak Komandan sebagai pembantu (antagonis)
  20. Michelle sebagai pembantu (protagonist) teman Bukit

      1. Tema
Tema yang digunakan pada novel Tarian Badai sosial, persahabatan, dan cinta. makna yang terkandunng dalam tema ini adalah “perjuangan tanpa didasari rasa cinta tidak akan membuahkan hasil yang dapat membuat orang bahagia, dan apabila semua perjuangan diiringi oleh rasa cinta akan mebuahkan hasil yang sangat membahagiakan, walau melewati jalan kematian”.

      1. Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel ini:

“Penari itu! Bukit masih ingat ketika pertama kali dia melihatnya di upacara perkawinan di Jawa. Semua ingatan sekian tahun lalu seprti dihidupkan kembali.”(hal 80)
penggalan kalimat ini bermakana:
Saat mengira cinta menghilang dari hadapan, ternyata cinta hanya bersembunyi, dan menunggu waktu yang tepat untuk keluar.

“Teman-teman, kita memang sudah kepalng tanggung. Kita tidak bisa mundur lagi demi menyelamatkan bangsa ini”
Penggalan kalimta ini bermakna:
Saat kita membela kebenaran, hendaklah kita lakukan penuh dengan keyakinan

      1. Alur atau Plot
Dalam menyusun cerita ini pengarang menggunakan alur maju, ceritanya dimulai dari eksposisi, konplikasi, klimaks, dan berakhir dengan pemecahan masalah.

      1. Latar atau Setting
Pengambilan latar/setting pada novel ini terbagi atas dua bagian latar waktu dan latar tempat. Diantaranya: di kota Jogja, sanggar tari, gedung kesenian Jakarta, Jalan Slamet Riyadi, Boston, Newburry street, Roxburry. Latar waktu: th 1998.

      1. Biografi Pengarang
BB Triatmoko, SJ adalah seorang Romo (pastor), dia lahir di Tanjung Balai Karimun, tahun 1965. Masuk novisiat ordo Jesuit tahun 1984 dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1994. Tahun 2000-2009 bertugas sebagai direktur Akademi Teknik Mesin (ATMI) Surakarta. Sejak tahun 2009 menjabat sebagai ketua Yayasan ATMI. Latar belakang pendidikan mencakup bidang Filsafat, Teknologi dia sering melakukan pencerahan diberbagai tempat yaitu ASM Semarang, STIKES-AKPER St.Elisabet Semarang, Sekolah Tinggi Patoral Kateketik ( STPKat) St. Fransiskus Asisi Semarang dan ASMI Santa Maria Yogyakarta.





  1. SIMPULAN
Bermula dari pertemuan yang tidak disengaja, diacara pernikahan, bukit dan ana bertemu, tapi hanya sebentar ia dapat memandangi sosok peerempuan yang cantik jelita yang sedang menari dengan gemulai, tak sempat ia menghilangkan rasa ingin tahunya, ana sudah turun dari atas panggung.
Bukit melanjutkan kehidupan sehari-harinya, tak terasa dia telah menyelesaikan program S1, dia pun melanjutkan studinya ke Amerika Boston, meninggalkan ana, sahabatnya Seto dan saingannya Daniel. Tak berapa lama kemudian ana bertemu Daniel di sanggar lukis, keduanya menjalin cinta sampai bertunangan, ana pergi ke boston Amerika untuk menjadi duta bangs.
Disaat bukit berjalan-jalan di kampusnya, tak sengaja dia menemukan sosok yang pernah menggetarkan hatinya, dari situla hubungan seita terjalin, saat pementasan mendekat sahabat bukit seto diculik, maka bukit harus meninggalkan ana yang akan menunjukan perform. Karena di Indonesia sedang mengalami masa genting, masa yang paling suram yang pernah terjadi di Indonesia, pemerkosaan, penculkan, pembunuhan, merajalela.
Setelah pementasan, ana langsung pulang, yang dilihatnya adalah keadaan terburuk, daniel terluka parah, bukit dalam keadaan paling buruk yaitu sahabat baiknya meninggal dunia. Daniel menyerahkan ana pada bukit karena dia telah berjanji pada seto, akan menjaga keluarga kecilnya.





DAFTAR PUSTAKA

BB Triatmoko. 2012. Tarian Badai. Yogyakarta: Galangpress

F., Zulfahnur Z, et.al. (1996). Teori Sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian
Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III Tahun 1996/1997.

Sabtu, 13 Oktober 2012

pembelajaran kartu angka untuk paud

LANDASAAN TEORI Kajian Pustaka Bermain Bermain merupakan salah satu kegiatan alamiah dan luas dalam kehidupan anak. Melalui bermain yang menyenangkan anak menyelidiki dan memperoleh pengalaman yang kaya baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain disekitarnya dan dapat mengorganisasi berbagai pengalaman dan kemampuan kognitif, bahasa, sosial emosional. Nilai-nilai moral agama dan fisik motorik. Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Belajar menampilkan emosi yang diterima lingkungannya dan juga belajar bersosialisasi agar kelak tamppil dan berhasil menyesuaikan diri dalam kelompok teman. Perkembangan intelektual merupakan kerjasama yang berkesinambungan dan saling mempengaruhi antara asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses mengubah informasi menjadi pengetahuan. Akomodasi sebagai penyesuaian yang dilakukan seseorang terhadap dunia luar, sehingga dapat mengasimilasi informasi yang datang, karena perkembangan bermain intelegensi, maka taraf intelegensi anak yang berpengaruh terhadap kegiatan bermainnya. Jadi kegiatan bermain adalah kegiatan yang menyenangkan yang diperoleh dari penngengalaman dan berhubungan dengan perkembangan intelektual. Menurut Musfiroh (2008;1) bermain merupakan kegiatan yang dilakukan atas dasar suatu kesenangan dan mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa perasaan atau tekanan dari pihak lain. Menurut Montessori (dalam Anggani Sudomo, 2010;2) mengemukakan, bahwa ketika anak bermain, ia akan mempelajari dan menyerap segala sesuatu yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Anak bagaikan spons yang menyerap air. Untuk itu, perencanaan dan persiapan lingkungan belajar anak harus dirancang dengan seksama sehingga segala sesuatu dapat merupakan kesempatan belajar yang sangat menyenangkan bagi anak itu sendiri Kartu Angka Kartu angka adalah kertas tebal, berbentuk persegi panjang , bujur sangkar, dan kotak yang berisi tanda atau lambang sebagai ganti bilangan (Kamisa, 1997;285). Menurut Maimunah Hasan “kenalkan bayi dengan angka-angka 1-10”. Memperkenalkan angka sejak usia dini, juga awal anak berhitung. Kemampuan Menurut kamus bahasa Indonesia kemampuan berarti pemahaman seseorang terhadap suatu hal dan kecakapannya untuk mengatasi permasalahan yang muncul disekitarnya. Lambang Bilangan Lambang bilangan adalah yang mempunyai arti sesuatu yang menggunakan dengan angka-angka. Pembelajaran terhadap kemampuan mengenal lambang bilangan termasuk dalam aspek pengembangan kognitif. Kajian Emipiris Dalam proses perkembangan anak melalui bermain kita akan menemukan dua istilah yang berbeda yaitu sumber belajar (learning resources) dan alat bermain (educational toys and games). Yang pasti alat bermain maupun sumber belajar akan berkembangan sesuai dengan perkembangan budaya dan teknologi. Montessori (dalam Anggani Sudono, 22) menyatakan bahwa lingkkungan atau alam sekitar yang mengundang anak untuk menyenangi pelajarannya. Mayke (1995) menyatakan bahwa belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktikan dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya. Disinal proses pembelajaran terjadi. Mereka mengambil keputusan, memilih, menetukan, mencipta, memasang, membongkar, mengembalikan, mencoba, mengeluarkan pendapat, memecahkan masalah dan mengerjakan secara tuntas. Bekerjasama dengan teman dan mengalami berbagai macam perasaan. Burns dalam bukunya Math Solution dan Baratta Lorton dalam bukunya Math Their Way, keduanya mendasarkan pada teori Piaget yang menunjukan bagaimana konsep matematika terbentuk pada anak. Burns mengatakan kelompok matematika yang sudah dapat diperkenalkan mulai dari usia tiga tahun adalah kelompok bilangan (aritmatika, berhitung), pola dan fungsinya, geometri, ukuran-ukuran, grafik, estimasi, probabilitas dan pemecahan masalah. Kerangka berpikir penelitian Anak usia TK berada pada tahapan praoprasional (2-7 tahun), karena anak telah mampu menggunakan logika pada tempatnya. Pada tahap ini anak mengembangkan kemampuan untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan serta mempersepsikan dengan gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisisk. Pra oprasional adalah kemampuan anak untuk mengantisipasi pengaruh dari satu kejadian dalam kejadian yang lain. Perkembangan praoprasional anak, memungkinkan anak berfikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada diluar pandangan, pendengaran atau jangkauan tanngannya. Anak mengerti bahwa perubahan dalam suatu factor disebabkan oleh perubahan dalam factor lain. Pada tahap ini anak memiliki angan-angan karena ia berfikir secra intuitif yakni berfikir dengan berdasrakan ilham. Usia dini atau pra sekolah merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak-anak. Upaya pengemabngan ini dapat dilakukan berbagai cara termasuk melalui permainan kartu angka. Meskipun permainan kartu angka di TK tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif saja, juga kesiapan mental sosial dan emosional, tetapi kemampuan kognitif lebih lebih dominan. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan. Dengan pendekatan belajar sambil bermain (learning by doing) atau bermain sambil belajar (doing by learning), di harapkan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal. Bermain merupakan bagian dari dunia anak-anak, umumnya anak-anak lebih menyukai aktivitas bermain dari pada aktivitas belajar. Aktifitas bermain lebih santai dan menyenangkan dari pada aktifitas belajar yang lebih menyenangkan dari pada aktifitas belajar lebih banyak mengandalkan otak identik dengan kejenuhan. Dengan bantuan permainan dalam mempelajari sesuatu anak tidak akan merasa sedang belajar. Sehingga mereka akan lebih merasa nyaman dalam mengikuti aktifitas yang ada. Model pebelajaran yang menggunakan teknik permainan akan membantu memudahkan mereka untuk mempelajari sesuatu tanpa merasa sedang belajar. Dengan demikian, teknik permainan dapat dikembangkan untuk membantu penguasaan anak-anak terhadap aspek-aspek khusus, termasuk dalam mengembangkan kognitif anak. Permaianan kartu angka ini merupakan bagian dari kegiatan belajar mengajar yang sangat tepat untuk diterapkan, hal ini berkaitan dengan pengembangan kognitif pada anak melalui permainan kartu angka ini pemahaman anak terhadap konsep-konsep bilangan menjadi jelas, bahkan permainan kartu angka ini dapat mempermudah guru dalam kegiatan belajar mengajar. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Jenis Rancangan Sesuai dengan rancangan yang dipilih dalam proposal ini, penelitian menggunakan metode eksperimen, tetapi bukan eksperimen murni seperti yang dilakukan di laboratorium tetapi “ Eksperimen Semu” karena objek yang diteliti adalah anak usia dini. Peneliti tidak melakukan control terhadap pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Penelitian ini bukanlah survei, bukan study kolerasional, dan bukan pula studi eksperimen murni tetapi peneliti eksposi facto (fakta telah terekspos) yang dilakukan pada taman kanak-kanak yang sebagian besar anaknya secara intensif mendapatkan permainan kartu angka. Dalam eksperimen ini variable bebasnya adalah permainan kartu angka di manipulasi oleh eksperimeter yaitu penelliti sendiri. Peneliti ini sengaja mempelajari pengaruh (effect) dari permainan kartu angka. Variable bebas ini memanipulasi ketika menyelenggarakan eksperimen selanjutnya, peneliti mempelajari pengaruhnya (yang diduga ada) pada nilai capaian hasil belajar, yaitu kemampuan mengenal lambang bilangan sebagai variable terikat. Penelitian ini akan dilakukan di 2 kelas dari 1 sekolah. Penelitian ini kurang maksimak karena dilakukan pada siswa 2 kelas berada pada lingkungan yang sama. Penerapan Rancangan Di Lapangan. Penelitian yang diajukan dalam proposal ini akan dilaksanakan antara bulan Oktober 2012 sampai bulan Desember 2012, sebagaiamana terlihat dalam table berikut. No Waktu observasi penelitian Tempat observasi penelitian Fungsi kelas 1 Minggu 1-minggu 4 Bulan Oktober 2012 Di TK Darussalam kelompok merah Sukolilo-Suarabaya Kelompok eksperimen/ Menggunakan permainan kartu angka. 2 Minggu 1-minggu 4 Bulan November 2012 Di TK Darussalam kelas Sukolilo-Surabaya Kelompok control/ Tidak menggunakan permainan kartu angka. Populasi dan Sampel Populasi target peneliti ini adalah seluruh anak didik usia dini yang ditanggal di wilayah kelurahan nginden jangkungan. Populasi yang terjangkau adalah mereka yang sedang berada di TK Darussalam yang akan di gunakan untuk penelitian ini yaitu di 2 kelas, a) kelas A1, dan b) kelas A2 no Nama anak Tempat, tanggal lahir Ekonomi Orang tua Hasil pre test A1 1 Alif Syauqi M Surabaya, 23-5-2007 2 Mauladhani Irsyad Surabaya, 8-4-2008 3 M Fasikhul Lisan Gresik, 13-5-2007 4 M Syafin Al Zawad Surabaya, 23-11-2007 5 M Insanul Fatir Surabaya, 20-10-2008 6 Naufal F Surabaya, 7-2-2007 7 Rayhan Agus Surabaya, 27-8-2007 8 Recy Tritama Surabaya, 8-1-2007 9 Setyawan Rizki Surabaya, 11-5-2007 10 M Radtya Aqshal Surabaya, 13-11-2007 11 Ajenng F Surabaya, 8-2-2008 12 Alexandra Devina Surabaya, 27-7-2007 13 Dewata Puspita Kediri, 24-2-2007 14 Indri Claudia Surabaya, 10-7-2007 15 Nailah Maulidya Putri Surabaya, 20-3-2008 16 Nabila Safa Salsabila Surabaya, 23-7-2007 17 Nadhiva Aulia Surabaya, 9-2-2007 18 Nuryah Kanza Surabaya, 14-11-2007 19 Saskiya Ika Ninggar Trenggalek, 10-7-2007 20 ZaynaAlmashfufah Surabaya, 13-11-2008 21 Cantiq Mega T Surabaya, 25-4-2008 A2 1 Alsa Abelina L Surabaya, 12-7-2007 2 Ayu Dwi Lestari Surabaya, 29-4-2007 3 Firnanda Keysa Surabaya, 25-2-2007 4 Hafisda Hafizhan Surabaya, 23-12-2007 5 Putrid Naila Syifa Surabaya, 16-3-2008 6 Ratu Deswita Surabaya, 19-12-2007 7 Salsabila Putri Lamongan, 31-7-2007 8 Sovi Atul Ulah Surabaya, 28-8-2007 9 Talita Nayfah Surabaya, 3-1-2008 10 Vioni Devina Surabaya, 21-11-2007 11 Wulan Imellia Surabaya, 5-3-2007 12 Ach. Baadilah Saputra Surabaya, 16-9-2007 13 Ach. Ulinnuha M Surabaya, 18-12-2007 14 Khoirul Anam Sampang, 4-2-2007 15 Lentera Dewa Surabaya, 1-9-2007 16 M. Rafli B Surabaya, 27-5-2007 17 Romy Abi Wafa Surabaya, 3-5-2007 18 Zanuar Ardiansyah Gresik, 28-1-2008 19 M Arif Rosidi Surabaya, 12-12-2007 20 M Adifatul Nganjuk, 28-1-2008 21 Nur Wachid Zariri Tuban, 30-12-2006 Sampel Menentukan Kelompok Pada penelitian ini peneliti akan menetapkan langsung sampel penelitian, yaitu kelompok merah sebagai kelas eksperimen, yang mengguanakan permainan kartu angka, dan kelompok hijau sebagai kelompok control yang tidak menggunakan permainan kartu angka. Agar dua sub sampel itu meiliki banyak persamaan maka anggota sampel yang datanya harus tidak diikut sertakan dalam eksperimen Membuang Data Yang Ekstrim Dalam rancangan eksperimen, baik eksperimen murni maupun semu, anggota sampel dari kelompok eksperimen maupun control harus memiliki kemampuan awal yang sama. Oleh karena itu, langkah perrtama untuk membuang data yang ekstrim adalah dengan melihat umur, latar belakang pendidikan anak usia dini dan kemampuan awal (dengan menyelenggarakan pre-test) TABEL no Nama anak Tempat, tanggal lahir Pendidikan orang tua Ekonomi orang tua Hasil pre-test 1 Alif Syauqi M Surabaya, 23-5-2007 SMA 2 Mauladhani Irsyad Surabaya, 8-4-2008 SMA 3 M Fasikhul Lisan Gresik, 13-5-2007 SMA 4 M Syafin Al Z Surabaya, 23-11-2007 SMA 5 M Insanul Fatir Surabaya, 20-10-2008 SMA 6 Naufal F Surabaya, 7-2-2007 SMA 7 Rayhan Agus Surabaya, 27-8-2007 SMA 8 Recy Tritama Surabaya, 8-1-2007 SMA 9 Setyawan Rizki Surabaya, 11-5-2007 SMA 10 M Radtya Aqshal Surabaya, 13-11-2007 SMA 11 Ajenng F Surabaya, 8-2-2008 SMA 12 Alexandra Devina Surabaya, 27-7-2007 SMA 13 Dewata Puspita Kediri, 24-2-2007 SMA 14 Indri Claudia Surabaya, 10-7-2007 SMA 15 Nailah Maulidya P Surabaya, 20-3-2008 SMA 16 Nabila Safa S Surabaya, 23-7-2007 SMA 17 Nadhiva Aulia Surabaya, 9-2-2007 SMA 18 Nuryah Kanza Surabaya, 14-11-2007 SMA 19 Saskiya Ika N Trenggalek, 10-7-2007 SMA 20 ZaynaAlmashfufah Surabaya, 13-11-2008 SMA 21 Cantiq Mega T Surabaya, 25-4-2008 SMA Spesifikasi anggota sampel TABLE RENCANA SAMPEL PENELITIAN Nama kelompok populasi Data yang ekstrim Anggota calon sampel Sampel acak Kelompok hijau Fungsi kelas control 22 anak 2 anak 20 anak 15 anak Kelompok merah Fungsi kelas eksperimen 23 anak 3 anak 20 anak 15 anak jumlah 45 anak 5 anak 40 anak nak Penentuan Sampel Melalui Random Dalam hal ini, penelitian hanya akan mengajak sejumlah 20 anak untuk menetapkan 15 anak saja dengan random melalui undian. Kemudian, peneliti hanya akan mengacak sejumlah 20 anak untuk mendapatkan sampel sebanyak 15 anak. Melakukan undian atas anggota populasi yang telah memenuhi spesifikasi dengan cara memasukan nama dan nomer anak didik ke dalam botol dan mengocoknya, nama yang keluar adalah anggota sampel TABEL NAMA ANGGOTA SUB-SAMPEL EKSPERIMEN DAN KONTROL No Nama dari sub sampel 1 No Nama dari sub sampel 2 1 Alif Syauqi M 1 Alsa Abelina L 2 Mauladhani Irsyad 2 Ayu Dwi 3 M Dehya Alqolbi 3 Firnanda Keysha K 4 Rayhan Agus 4 Hafisda Hafizhan S 5 Setyawan Rizki 5 Putri Naila Syifa 6 Naufal F 6 Ratu Deswita Najwa 7 Recy Tritama 7 Salsabila Putri Aulia 8 Ajeng Fadhilatul Ilmi 8 Ach Baadilah 9 Alexandra Devina 9 Ach Ulinuha Mahdi 10 Nailah Maulidya P 10 M Rafli Baihaqi 11 Nadiva Aulia 11 Zanuar Ardiansyah 12 Nuryah Kanza 12 M Arif Rosidi 13 Saskya Ika Ninggar 13 M Adifatul Mauzi 14 Zayna Al Mashfufah 14 Talitha Nayfa 15 M Farrel Firmansyah 15 Wulan Imelia Mareta Teknik Pengumpulan Data Instrument Penelitian Instrument pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah insttrumen untuk menjelaskan test dan instrument observases. Tujuan dari dikembangkannya instrument ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan dari setiap anak didik dalam kemampuan mengenal lambang bilangan. Dengan demikian, nilai seorang anak didik diperoleh dari rata-rata dari dua sumber itu. Test dengan kegiatan belajar dengan menggunakan permainan kartu angka. Pertama, instrument test sebagai instrument pertama yang di kembangkan dalam penelitian ini adalah “test kegiatan belajar dengan menggunakan kartu angka” sebagai “test untuk melihat kemampuan mengenal lambang bilangan”. Tinggi rendahnya nilai seorang anak ditentukan dalam indicator yang terdapat pada skala rating permainan kartu angka dan skala rating kemampuan mengenal lambvang bilangan. Skala Rating Skala ratung permainan kartu angka No Aspek permainan kartu angka 1 2 3 4 1 Ketertarikan anak dalam mengikuti permainan akrtu angka 2 Keaktifan anak dalam mengikuti permainan kartu angka 3 Keterampilan anak dalam mengikuti permainan kartu angka 4 Kemampuan anak dalam menngenal angka Keterangan 1 : Bila tidak sama sekali 2 : Bila kurang 3 : Bila cukup 4 : Bila baik Skala rating kemampuan lambangn bilangan no Aspek kemampuan mengenal lambang bilangan 1 2 3 4 1 Mampu mengenal angka 1-5 2 Mampu menyebutkan angka 1-5 3 Mampu membedakan angka 1-5 4 Menyusun angka 1-5 dengan benar 5 Mampu mengelompokkan angka-angka yang sama dengan bendanya yang berjumlah sama 6 Mampu menuliskan kembali angka 1-10 7 Mampu mengurutkan angka-angka yang acak 8 Mampu mengenal konsep penjumlahan 1-5 9 Mampu mengenal konsep pengurangan 1-5 Keterangan 1 : Bila tidak sama sekali 2 : Bila kurang 3 : Bila cukup 4 : Bila baik Tekhnik Penilaihan Pertama, penelitian dibantu oleh rater 2 dan 3 membuat jadwal test. Kesepakatan antara penilai menyatakan bahwa dalam satu hari paling banyak akan menilai 5 anka didik usia dini. Setiap anak akan dinilai denngan 3 orang bersama-sama namun melakukan penilian sendiri-sendiri dengan menggunakan (1) test permainan kartu angka dan (2) pdoman observasi. No Nama anak didik Rater 1 Rater2 Rater3 Skor rata-rata 1 2 3 4 5 Kedua, peneliti dibantu oleh rater 2 dan rater 3 membuat nilai akhir siswa yang diperoleh dari rata-rata : (1) skor test permainan kartu angka dan (2) skor observasi kemampuan mengenal lambang bilangan. no Nama anak didik Skor test permainan Skor observasi kemampuan mengenal lambang bilangan Skor rata-rata nilai akhir Ketiga, penilitian dibantu oleh rater 2 dan rater 1 memasukan nilai kedalam lembar nilai untuk kelas eksperimen dan kelas dan kelas control berdasarkan nilai hasil test dan nilai hasil observasi. Prosedur Pengumpulan Data Mengadakan Instrument Instrument berupa sekala rating, permainan kartu angka dan skala kemampuan mengenal lambang bilangan, digandakan paling sedikit sebanyak jumlah sampai responden. Melatih Tenaga Pembantu Pengumpul Data Dua orang guru yang ditunjuk untuk mengumpulkan data dilatih oleh peneliti tentang bagaimana melakukan test kepada setiap anggota sampel responden. Tujuannya adalah menyamakan presepsi tentang dua hal: 1) cara penilaian test permainan kartu angka dan pedoman observasi, dan 2) penetapan nilai kemampuan yang ditujukan oleh setiap anak didik anggota sampel. Menghubungi Sekolah Maksud utama dari kegiatan ini adalah untuk menjelaskan tujuan dari penelitian agar terjadi rapport yaitu hubungan yang baik antara penelitian (termasuk pembantu pengumpul data) dan penngurus yayasan, kepala sekolah, guru-guru, orang tua dan anak usia dini yang dijadikan objek penelitian. Dengan timbulnya rapport diharapkan mereka dapat mengerti tentang gagasan pengumpulan data, dan juga perasaan antara pemberi test yaitu peneliti dan anak didik yang di test. Keberhasilan peneliti sangat tergantung pada good rapport ini. Setelah peneliti diterima dengan baik langkah berikutnya adalah menyampaikan jadwal test, observasi dan pemeriksaan dokumen. Melakukan Test dan Observasi Untuk mendapatkan data yang akurat, peneliti dan dua tenaga pembantu pengumpul data menilai (memberi test dan observasi) paling banyak hanya 5 anak didik dalam satu hari. Skor atau nilai hasil pengukuran dari setiap anggota sampel respondent dimasukan dalam table rekapitulasi. Sesuai dengan rangsangan peneliti yang terdiri dari kelompok eksperimen dan kelompok control, maka dari akhir pelaksanaan test dan observasi ini terdapat dua table rekapitulasi. Menyimpan Data Data yang terkumpul merupakan hasil penelitian termasuk: instrument, table, rekapitulasi, dan data berupa foto yang dapat dijadikan bukti dari penelitian tersebut dan merupakan bahan perlengkap ujian skripsi mahasiswa. Teknik Analisis Data Data hasil penelitian yang berupa nilai permainan kartu angka dan nilai kemampuan mengenal lambang bilangan anak didik di analisis melaluui langkah-langkah seperti yang diuraikan berikut ini. Pertama, melakukan perhitungan rata-rata atau mean dua dari dua sampel. Dalam rangka analisisi, sampel kelompok anak didik usia dini yang menggunakan permainan kartu angka diberi kode Xᶦ, sedangkan kelompok anak didik usia dini yang tidak menggunakan permainan kartu angka. TABEL PENYAJIAN DATA SAMPEL 1 DAN SAMPEL 2 Nama X1 X2 X3 X2² Σ Σ X1 Σ X1² Σ X2 Σ X2² X1= X2= Kedua, mengubah hipotesis penelitian menjadi hipotesis statistik: Ho : µ x1= µ x2 H1 : µ x1 > µ x2 Artinya hipotesis nihil (Ho) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan mengenal lambanng bilangan antara sampel anak usia dini yang menggunakan permainan kartu angka. Hipotesis penelitian (H1) menyatakan bahwa sampai anak usia dini yang menggunakan permainan kartu angka memiliki kemampuan. Mengenal lambang bilangan lebih tinggi dari pada sampel anak usia dini yang tidak menggunakan permainan kartu angka. Ketiga, menghitunng nilai t hitung dan df= t=x1-x2 √(s1^2+s2^2 )/(n^1n^2 ) Keempat, menunjuk ke tabel untuk df =n1+n2-2, diperoleh t hitung yang lebih besar ataukah lebih kecil dari pada nilai t tabel, yang digunakan untuk menolak Ho dengan menggunakan criteria signifikasi 0,05. Apabila nilai terhitung lebih besar dari nilai t tabel, artinya perbedaan yang diperoleh diantara mean-mean sampel bukan karena kesalahan sampling. Oleh karena itu Ho ditolak dan menyimpulkan bahwa sampel acak dan populasi dengan mean-mean yang berbeda. Lebih khusus lagi, permainan kartu angka memiliki efek yang positif pada skor kemampuan mengenal lambang bilangan anak usia dini. Langkah keempat ini adalah menguji hipotesis dengan membandingkan t hitung dan t tabel. Selanjutnya untuk menentukan apakah nilai t hitung itu benar-benar signifikan atau tidak harus dibandingkan dengan t tabel dengan derajat kebebasan (db) n1+n2-2 pada taraf signifikasi 0,05 langkah keempat ini dapat disajikan dalam tabel berikut. TABEL 2 PERBANDINGAN t HITUNG DENGAN t TABEL Hipotesis d.b t hitung t tabel Ho menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan mengenal lambang bilangan antara sampel yang menggunakan permainan kartu angka dan sampel yang tidak menggunakan N1+n2-2 H1 menyatakan bahwa sampel yang menggunakan permainan kartu angka memiliki kemampuan mengenal lambang bilangan yang lebih besar dari pada sampel yang tidak menggunakan permainan kartu angka Kesimpulan: karena t hitung > t tabel artinya Ho ditolak dan H1 diterima atau sebaliknya. \ Departemen Pendidikan Nasional, 2009. Standar Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Depdikbbud Hasan, Maimunah. 2011. Pendidikan anak usia dini. Diva Press: Jogjakarta. Kamisa. 1997. Kamus Bahasa Indonesia (Edisi Pertama). Kartika: Suarabaya. Mudjito AK. 2007. Permainan Berhitung

Kamis, 27 September 2012

FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU

Bab III FILSAFAT, ILMU, DAN FILSAFAT ILMU 3.1 DESKRIPSI Filsafat adalah suatu pengetahuan yang bersifat eksistensial artinya sangat erat hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Kata ilmu merupakan terjemahan dari kata “science” artinya “to know”. Pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukan ilmu pengetahuan alam yang bersifat kuantitatif dan objektif. Filsafat ilmu merupakan bagian epistomoligi (filsafat pengetahuan)yang secara spesifikasi mengkaji hakikat ilmu (penngetahuan ilmiah) atau dengan kata lain filsafat ilmu. 3.2 TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan pembelajaran ini menjelaskan tentang pengertian filsafat dan cabang-cabangnya, ilmu, filsafat ilmu yang selalu melakukan pencarian dan penemuan hakikat dari seluruh kenyataan (reality). 3.3 PENGERTIAN DAN KEGUANAAN FILSAFAT Pengertian filsafat dapat dipilahkan kedalam dua garis besar, yaitu secara etiomologi dan secara terminology. 3.3.1 Pengertian Secara Etimologi Pengertian etimologis dari istilah filsafat berarti cinta kenijaksanaan atau love of wisdom dalam arti yang sedalam-dalamnya. 3.3.2 Pengertian Secara Terminology Pengertian terminologis merupakan uraian yang menjelaskan batasan-batsan definisi yang disusun oleh sejumlah filsuf dan ahli filsafat. 1. Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli. 2. Aristoteles filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika(filsafat keindahan). 3. Rene Descartes filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan 3.3.3 Kegunaan Filsafat kegunaan filsafat dapat dibagi menjadi dua, yakni: 1. kegunaan secara umum dimaksudkan manfaat yang dapat diambil oleh orang yang belajar filsafat dengan mendalam sehingga mampu memecahkan masalah-masalah secara kritis. 2. Kegunaan secara khusus dimaksudkan untuk memecahkan suatu objek di Indonesia. 3.3.4 Cabang-Cabanng Fisafat Cabanng-cabang filsafat yang diurakan pada bagian ini adalah: 1. (i) Epistomologi, (ii) Metafisika, (iii) Logika, (iv) Etika; dan (v) Estetika 3.3.5 Ruang Lingkup Filsafat Filsafat dapat ditentukan ruang lingkupnya dalam dua objek yaitu: 1. Objek material filsafat ialah segala sesuatu yang dipermasalahkan 2. Objek formal filsafat adalah bersifat non-fragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realita secara luas dan mendalam. 3.3.6 Karakteristik Pemikiran Kefilsafatan Karakteristik atau cirri-ciri pemikiran kefilsafatan antara lain: 1. Pemikiran yang bebas dan sebebas bebasnya, (ii) Pemikiran yang rasional dan kritis , (iii) Pemikiran yang esensial , (iv) Pemikiran yang abstrak , (v) Pemikiran yang radikal, (vi) Pemikiran yang holistic, (vii) Pemikiran yang continue, (viii) Pemikiran yang “inquiry”, (ix) Pemikiran yang “questioning”, (x) Pemikiran yang analisis dan diskonstruksi, (xi) Pemikiran spekulatif, (xii) Pemikiran yang inventif, (xiii) Pemikiran yang sistematik 3.4 PENGERTIAN ILMU DAN FILSAFAT ILMU Ilmu merupakan suatu perangkat fundamental dalam penciptaan peradaban. Pengetahuan manusia yang bersifat alamiah (natural) kemudian dikonstruksi menjadi teori-teori yang dapat memberikan konklusi bagi setiap persoalan-persoalan kehidupan. 3.4.1 Definisi Ilmu Dalam kamus istilah ilmiah dirumuskan pengertian sciences and technology sebagai “the study of natural sciences and the application of the knowledge for partical purpose” yang artinya adalah penelahaan dari ilmu alam dan penerapan dari pengetahuan ini untuk maksud praktis. 3.4.2 Cabang-Cabang Ilmu Ilmu berkembang pesat dengan cabang-cabangnya, pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni, filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (the natural science) dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang-cabang ilmu sosial (the sosial science). 3.4.3 Macam-Macam Ilmu Penngetahuan Di Dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan tentang Perguruan Tinggi Nomor 22 Tahun 1961 di Indonesia mengklasifikasikan ilmu pengetahuan atas empat kelompok ilmu sebagai berikut: (i) ilmu agama/kehormatan, (ii) ilmu kebudayaan, (iii) ilmu sosial, dan (iv) ilmu eksakta. 3.4.4 Objek Material Objek dari ilmu itu sendiri adalah ilmu merupakan suatu berkah penyelamat bagi umat manusia. Netralitas ilmu terletak epistemologinya, jika hitam katakan hitam, jika putih katakan putih; tanpa berpihak pada siapa pun selain kebenaran. 3.5 FILSFAT ILMU The Liang Gie mendefinisikan bahwa filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi kehidupan manusia. 3.5.1 Sejarah Filsafat Ilmu Lahir pada abad ke-18 cabang filsafat yang disebut sebagai filsafat pengetahuan di mana logika, filsafat bahasa, matematika, metodologi. 3.5.2 Ruang Lingkup Filsafat Ilmu Filsafat ilmu sampai tahun Sembilan puluhan telah berkembang pesat sehingga menjadi bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam. 3.5.3 Perbedaan, filsafat, ilmu, dan filsafat ilmu Filsafat merupakan cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan atau teori yangn sering tidak bertujuan praktis, tetapi teoretis. Ilmu merupakan salah satu dari pengetahuan manusia. Fiolsafat ilmu adalah segenap pemikiran yang reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. 3.5.4 Tujuan Pendidikan Filsafat Dan Filsafat Ilmu Adapun tujuan dilaksanakan pembelajaran filsafat ilmu adalah; (i) kembali kepada kesadaran berpikir kefilsafatan, (ii) merespon isu krisis ilmu pengetahuan, (iii) mengoreksi Paham Positivisme dan pragmatisme, (iv) member dasar-dasar filosofis bagi ilmu yang baru, (v) melakukan falsifikasi terhadap imu, (vi) membangun paradigma yang baru, (vii) mengoreksi konsep dan teori lama, (viii) menumbuh kembangkan moralitas dan integritas manusia mendasarkan pada ilmu pengetahuan yang dikuasainya. 3.5.5 Hubungan Filsafat, Ilmu, Filsafat Ilmu Dengan Antropologi Antropologi membahas segala aspek hubungan manusia. Filsafat menelaah segala yang mungkin dipikirkan oleh manusia. 3.5.6 Hubungan Filsafat, Ilmu, Dan Filsafat Ilmu Dengan Ilmu Politik Politik dapat dikatakan sebagai filsafat karena dalam mempelajari politik diperlukan cara berfikir yang kompleks sistematis serta politik adalah sebuah ilmu yang menyangkut salah satu aspek kehidupan manusia berkaitan dengan kemenangan yang perlu dianalisis secara kritis. 3.5.7 Hubungan Antara Ilmu Alam, Sosial, Dan Humaniora Pengertian humaniora menjadi hubungan trisula atau bercabanng menjadi tiga, yakni: (i) hubungan manusia denngan sang khalik; (ii) hubungan manusia dengan sesamanya, dan dengan alam; (iii) hubungan denngan alam baik makhluk jasad-jasad hidup, maupun benda-benda mati. 3.6 RINGAKASAN Filsafat, secara etimologi berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam pengertian yang sedalam-dalamnya. Ruangan lingkup filsafat dipilahkan dalam dua objek yaitu; (i) objek formal, dan ; (ii) objek material. Objek dan ruang lingkup ilmu membatasi pada pengkajian. Filsafat alam yang kemudian menjadi kumpulan ilmu-ilmu alam (the natural science). Filsafat ilmu adalah teory of science (teori ilmu), meta science (adi-ilmu), science of science (ilmu tentang ilmu). Filsafat ilmu menampung permasalahan yang menyangkut berbagai hubungan keluar dan kedalam yang terdapat dalam kegiatan ilmiah. Ruanng lingkup filsafat ilmu menurut para filsuf antara lain: (i) ilmu mempunyai empat bidang konsentiasi; (ii) ilmu mempunyaibebrapa bidang yaitu logika ilmu, ilmu keamalan; (iii) ada tiga bidang filsafat ilmu (Israel schaffler); (iv) filsafat ilmu dianggap mempunyai dua komponen uatama (U.C Smart) Perbedaan filsafat, ilmu, dan filsafat ilmu antara lain adalah: filsafat itu membahas akal budi murni. Hubungan filsafat, ilmu, filsafat ilmu dengan antropologi dan ilmu politik antara lain antropologi membahas segala aspek tentang manusia sedangakn filsafat menelaah tentang segala yang mungkin dipikirkan manusia. Ilmu politik mempelajari salah satu aspek kehidupan manusia antara manusia tentang kewenangan sehingga diperlukan analisis yang jelas dalam menelaahnya. Ilmu politik merupakan suatu bidang pengetahuan campuran pengembangannya bergantung pada hhubungan timbal balik dan saling penngaruh antara filsafat dan ilmu Bab ii A. SUMBER FILSAFAT Di dunia Barat yang mula-mulanya berfilsafat adalah orang-orang Yunani. Plato mengatakan bahwa filsafat mulai dengan ketakjuban, dengan keheranan. Segala sesuatu yang dihadapinya yang belum jelas. Kanak-kanaklah yang hidup penuh keheranan dengan mengajukan bermacam pertanyaan kepada ibunya, ayahnya, neneknya, kakeknya, dan lain-lain, misalkan, Kenapa matahari tiap pagi terbit dan tiap malam hilang? Kalau di zaman purba filsafat mulai dengan keheranan, maka di zaman modern, mulai dengan Discartes, ia biasanya mulai dengan kesanngsian. Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan, bahwa sangsi itu adik dari tidak percaya. Kesangsian adalah antara percaya dan tidak percaya. Kata yang berasal dari bahasa asing untuk sangsi ialah skeptic istilah yang menunjuk pengertian paham, yakni skeptisisme. Dalam filsafat lama skeptisisme merupakan aliran filsafat, dalam filsafat modern ia merupakan sumber atau pangkal filsafat. Potagoras mendalikan ukuran segala sesuatu. Tangkapan pancaindra manusia berubah-ubah, pikirannya dan pandangannya. Pascal menyangsikan, bahwa manusia akan dapat mengetahui apa sebenarnya dunia itu. Pada filsafat lama, kesangsian itu merupakan akhir filsafat sehingga terbentuklah aliran kesangsian. Pada filsafat modern ia merupakan awal filsafat. Ditemukanlah kebenaran, berhentilah pikiran, tersusunlah system pengetahuan yang menghasilkan kebenaran dengan berpikir, yaitu suatu filsafat sejarah filsafat adalah sejarah perkembangan pikiran manusia. Dapat pula ia dikatakan sejarah kesangsian manusia dalam usahanya mencari kebenaran dari tersebut dengan kebenaran. B. FILSAFAT, ILMU, KEBUDAYAAN, DAN AGAMA 1. Filsafat dan Ilmu Filsafat Yunani cdan filsafat Islam memang kabur batas filsafat dan ilmu. Kata ilmu berasal dari kata bahsa Arab (alima) dan berarti pengetahuan. Ilmu adalah pengetahuan. Denngan “pengetahuan ilmu” dimaksud pengetahuan yang pasti, eksak dan betul-betul terorganisasi. Ilmu merupakan perkembangan lanjut dan mendalam dari pengetahuan indra. Ilmu haruslah sistematis dan berdasarkan metodologi dan berusaha mencapai generalisasi. Ada beberapa macam jenis ilmu: A. ilmu praktis, mempelajari hubungan sebab-akibat untuk diterapkan dalam alam kenyataan. B. ilmu praktis normative, member ukuran-ukuran dan norma-norma. C. ilmu praktis positif, sesuatu atau tindakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil tertentu. D. ilmu spekulatif ideografis, mengaji kebenaran objek dalam wujud nyata dalm ruang dan waktu tertentu. E. ilmu spekulatif-nomotetis, mendapatkan hokum umum. F. ilmu spekulatif-teoretis, memahami kausaliatas. Tujuannya memperoleh kebenaran dari keadaan atau peristiwa tertentu. Baik ilmu ataupun filsafat sama-sama mencari pengetahuan yang benar. 2. Filsafat dan Kebudayaan Suatu kebudayaan ialah cara berpikir dan cara merasa, yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia,dari perbandingan teori kultur universal dapat pula membagi kebudayan dalam tujuh faset atau cabang kebudayaan, yakni: sosial, ekonomi, politik, ilmu, dan teknik, seni, filsafat dan agama. 3. Filsafat dan Agama Hubunngan filsafat dengan agama dan peranannya terhadap agama. Ada dua kategori agama: 1) agama budaya (yang disebut oleh kepustakaan Barat dengan natural religion). 2) agama langit (disebut oleh kepustakaan revaled religion). Agama budayalah yang lahir dalam kebudayaan. Agama langit diturunkan dari langit. Yang pertama dibentuk oleh filsafat masyarakat. Persamaan lain antara filsafat dan agama ialah, masin-masing merupakan sumber nilai, terutama nilai-nilai etika. Perbedaan besar antara filsafat dan agama, antara suatu filsafat dengan filsafat lain. C. TEORI, ALIRAN DAN JENIS-JENIS PENGETAHUAN 1. Teori Pengetahuan Henderson (dalam Sadulloh, 2003;98) mengemukakan, bahwa; The rationalist argue that our sense give us but the raw material from which knowledge comes. Knowledge, say the, is not to be found in principle, which our sense cannot possibly furnish us; the main it self is active, an organizer and systematize of oru sensory experience. For the rationalist, mathematic furnishes the correct pattern for thought. Jadi, rasionalisme mendasari, teori pengetahuan idealism mengemukakan, bahwa indra kita hanya memberikan materi mentah bagi pengetahuan. Ada beberapa teori yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan apakah pengetahuan itu benar atau salah, yaitu: 1) teori korespondensi, 2) teori koherensi, dan 3) teori pragmatisme. 2. Aliran-Aliran Dalam Masalah Pengetahuan Persoalan pengetahuan dengan sumber-sumber pengetahuan, dijawab oleh aliran-aliran berikut ini: a. Rasionalisme, berpandangan bahwa semua pengetahuan bersumber pada akal. Rasionalisme mendasarkan metode deduksi, yaitu cara memperoleh kepastian langkah-langkah metodis dari hal-hal yang bersifat umum untuk mendapatkan yang bersifat khusus. b. Empirisme, berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh lewat indra. c. Realisme, adalah aliran adalah ruang waktu sebagai dua bentuk pengamatan 3. Jenis-jenis Pengetahuan Manusia berusaha mencari pengetahuan dan kebenaran, yang dapat diperoleh dengan melalui bnebrapa sumber: a. Penegtahuan wahyu Manusia memperoleh penngetahuan dan kebenaran atas dasar wahyu yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. b. Pengetahuan intuitif Pengetahuan intutif diperoleh manusia dari dalam dirinya sendiri, pada saat ia menghayati sesuatu. c. Pengetahuan rasional Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang diperoleh dari latihan rasio/akal semata, tidak diertai dengan observasi terhadap peristiwa-peristiwa factual. d. Pengetahuan empiris Pengetahuan empiris diperoleh atas bbukti pengindraan dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indra-indra lainnya. e. Pengetahuan otoritas f. Suatu pengetahuan itu bnar-benar karena telah mengeceknya di luar diri kita, melainkan telah dijamin oleh otoritas (suatu sumber yang beribawa, memiliki wewenang, memiliki hak) di lapangan. D. METODE ILMIAH Kata metode berasal dari kata Yunani: “meta”=jalan; ”bodos”=melalui”meta+bodos”=sepanjang jalan. Dalam ilmu pengetahuan, metode adalah cara bekerja menurut aturan-aturan yang berdasarkan pada objeknya. 1. Guna Metode Klasifikasi metode Untuk menemukan A. Metode Untuk mengajarkan Ilmu pengetahuan B. Metode Autoritas Empiris C. Metode Rasional Konstruksi D. Metode Sistematisasi 2. Metode Kebimbangan Orang tidak bimbang terhadap sesuatu kebenaran tetapi seiring bertindak seolah-olah bimbang terhadap suatu kebenaran. Adapun sebavnya adalah sebagai berikut: a. Kebimbangan umum itu sebenarnya tidak mungkin b. Orang yang tenggelam dalam kebimbangan umum, mustahil dapat keluar. 3. Metode Dalam Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan adalah kumpulan mengenai suatu hal tertentu (objek). Ilmu pengetahuan itu mencari yang umum dan yang mutlak. Ilmu pengetahuan itu mencari yang umum pada barang. Yang mutlak, hukum-hukum itu adalah realitas-realitas yang mutlak secara methapysis, physis atau moral. 4. Metode Ilmu Pengetahuan Alam kodrat Ilmu pengetahuan alam kodrat ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Ilmu pengetahuan alam kodrat yang anorganis: 1. Fisika, dan 2. kimia b. ilmu pengetahuan alam kodrat yang organis. Yaitu mempelajari tentang gejala-gejala yang khusus terdapat pada benda-benda hidup (Ilmu pengetahuan biologis). Adapun ilmu pengetahuannya melalui empat fase sebagai berikut: a. observasi (pengematan) b. hipotesis 1. syarat-syarat apriori bagi hipotesis 2. tugas hipotesis c. eksperimen (percobaan) d. induksi 1. induksi lengkap 2. induksi tidak lengkap

LANGKAH MEMAHAMI PROSA

Langkah memahami prosa Memahami fiksa-baik itu cerpen, novel, maupun buku baca-; hakikatnya memahami unsur yang memangunnya. Unsur pembangun fiksi yang tetap mencakup: (1) tema, (2) plot, (3) setting, (4) tokoh dan penokohan, (5) point of view, (6) bahasa dan style, dan (7) pesan. Unsur ini merupakan unsur intrinsic sebuah fiksi. Entrinsikalitas prosa fiksi itu sendiri mencakup (1) pendidikan, (2) sosial budaya,(3) sosial masyarakat, (4) politik, (5) ekonomi, (6) adat, (7) filsafat, (8) ilmu pengetahuan, dan seterusnya. A.PENGANTAR RASIONALISASI 1.Memahami Booming Fiksi Para remaja kita, terhenyak dengan kehadiran novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman dan Lascar Pelangi karya Andrea Hirata. Mengapa tiba-tiba kedua novel ini mendapat tempat dihati masyarakat? Sebelumnya, remaja perkotaan dan sebagian kota kecil seperti terhipnotis dengan novel Harry Potter karya JK. Rowling mengapa novel-novel Indonesia yang serius tidak memiliki suspensi seperti ketiga novel diatas?. Pertama, ketiga novel tersebut berkelindan dalam kemasan kapitalisasi. Artinya, pemasran ketiga novel itu didukung oleh, kekuatan media besar yang luar biasa. Kedua, ketiga cerpen tersebut mau tidak mau bergulat di wilayah bawah sadar masyarakat. Ayat-Ayat Cinta sejak awal pengarangnya memang membidik pembaca muhammadiyah yang jumlahnya sekitar 40 juta penduduk. Sementara, Laskar Pelangi menyuguhkan romantisme hidup dunia pendidikan yang nyaris menjadi bagian terbesar bangsa Indonesia. Sebuah balutan kemiskinan, heroisme seorang guru perempuan yang mempunyai etos dan keuletan di satu sisi dan di satu sisi lainnya sekelompok pelajar yang kemudian berhasil berpijar. Sementara, Harry Potter, bercerita tentang kompleksitas hidup yang nyaris lebih sempurna: cinta, mitos, persahabatan, petualangan, perjuangan, kecerdikan, humanitas, dan seterusnya. Ketiga, novel ini difilmkan dengan media film, maka budaya keterbacaan diterobos , artinya mereka yang tidak suka membaca bias menonton, dan lebih dari itu. Nah sebenarnya ada potensi besar dengan keberadaan booming novel-novel itu. Mestinya dapat dioptimalkan oleh komponen dunia pendidikan untuk mendekatkan dunia apresiasi di kalangan pelajar. Kelemahannya, kecendrungan guru tidak lebur dalam budaya massa yang sesungguhnya berpotensi meningkatkan ketajaman hati, kelembutan rasa, dan kekokohan kemanusian kita. 2.Mengenal Fiksi Sebagai Fakta Imajinasi Sebagaimana galib disadari bahwa fiksi ada potret realita sosial maka membacanya sesungguhnya mengamati realita sosial itu sendiri. Dalam teori sastra dikenal adanya teori mimesis, bahwa karya sastra itu merupakan tiruan dari kejadian reallita sosial. Sementara itu, teori memandang bhawa pengarang dengan pergulatannya dalam realita itu memiliki kesan kemudian bersikap dan berekspresi. Pengarang menyurakan letupan batin terkit dengan kenyatan sosial. Dengan logika demikian maka membaca prosa fiksi tentunya kita akan bergulat dengan sejumlah nilai yang akan memperkaya imajinasi. Kita pernah membaca Layar Terkembang dan Siti Nurbaya, Layar Terkembang adalah sebuah potret realita masa perjuangan dengan gerakan sosial. Sementara Siti Nurbaya potret kekuatan adat yang memberangus cinta seoranng Siti Nurbaya. Kedua novel itu berbicara makna, nilai, dan pesan-pesan terpenting dalam kehidupan dunia kehidupan.kesalahan selama ini, pelajar tidak didekatkan, tetapi di hafalkan. Jarang secara subsitantif merefleksikan realitasosial dengan membandingakan dengan dokumen sejarah misalnya, membongkar Layar Terkembang dari sudut remaja untuk menggali makna kehidupan. 3.Hindarkan kognifikasi prosa Seiring pembelajaran prosa fiksi di sekolah terjebak pada kognifikasi. Artinya, pembelajaran satra tidak melibatkan emosi, empati, dan imajinasi. Apa cerpen itu? Banyak pengertian yang dikemukakan para ahli yang dapat didiskusikan. Mochtar Lubis bilang, bahwa yang dimaksudkan cerita pendek itu memiliki parameter berikut (i) ia harus mengandung interpretasi pengarang tentang konsepsinya mengenai penghidupan, baik langsung maupun tidak langsung, (ii) ia harus menimbulkan suatu hempasan dalam ppikiran pembaca, (iii) ia harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa pembaca mereka terasa terharu oleh jalan cerita, (iv) ia harus mengandung perincian dan insiden-insiden yang dipilih dengan sengaja, dan yang menimbulkan pertanyaan –pertanyaan dalam pikiran pembca. Hb. Jassin bilang, cerita pendek itu harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian , dan penyelesian. The Liang Gie dan Widyamartayabilang, cerita pendek itu merupakan cerita khayali berbentuk prosa yang pendek, biasanya dibawah 10.000 kata, bertujuan menghasilkan kesan kuat dan mengandung unsure-unsur drama. Sedangkan menurut Mohammad Diponegoro cerita pendek itu (1) harus pendek, seberapa? Sekali duduk, antri karcis, dan menunggu teman misalnya; (2) cerpen itu mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik; (3) cerita pendek harus ketat dan padat; (4) cerpen itu harus menimbulakan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda. Untuk itulah, berikut diungkapkan langkah-langkah praktis apresiasi yang lebbih menekan pada proses pergulatan. Langkah-langkah yang bukan sebuah hierakhis jejak tetapi peta untuk menemukan isi, nilai, dan pesan sebuah karya fiksi. Belum banyak buku yang menyuguhkan teknik ini kalau tak mau dibilang langka keberadaanya. Karena itu, langkah-langkah ini menjadi penting unutk dipikirkan.

Selasa, 23 Agustus 2011


akibat sipakah ini????



design kamar cewek

untuk cewek dinamis and simpel,,,,
cocok banget dengan warna biru tua,,,,





hands art




Guido Daniele lahir di Soverato (Italia) dan sekarang tinggal dan bekerja di Milan. Dia lulus dari Sekolah Seni Brera, ia telah melukis dan berpartisipasi dalam pameran seni pribadi dan kelompok sejak tahun 1968.

Pada tahun 1972 ia mulai bekerja sebagai ilustrator hyper-realistis, dalam kerjasama untuk pengeditan utama dalam perusahaan iklan, menggunakan pengujian teknik melukis yang berbeda.

Pada tahun 1990 ia menambahkan pengalaman artistik baru yang sebelumnya menggunakan teknik melukis tubuh dia menciptakan cat tubuh pada model untuk iklan gambar, fashion dan pameran.

Karya terbarunya adalah melukis pada pergelangan tangan dan menjadikannya sebagai sebuah bentuk karya baru yang mungkin sangat jarang kita temui karena keunikannya. Berikut ini beberapa hasil karyanya.